Kamis, 28 Juli 2016

Krisis Pertemanan

Katanya wanita "sehat" perlu bicara 2000 kata perhari. Haha! sepertinya tiap harinya gw gak pernah deh ngomong sebegitu banyaknya. Baiklah, gaw harus mengeluarkan kata-kata itu, demi jiwa yang sehat *smile*.

Sudah hampir setahun gw mengemban amanah menjadi seorang Ibu (muda) dan juga sebagai istri. Hampir dua tahun pula, banyak banget yang udah berubah dalam hidup gw. Kadang perlu hati yang lapang untuk menjalani perubahan-perubahan itu dan yang paling penting sih hati yang selalu bersyukur. 

Salah satu yang berubah adalah dunia pertemanan. I dont know, whether every married women has this feeling, same with me.

Sebagai seorang yang intorvert, ya! sepertinya gw termasuk tipe intorvert untuk mengembalikan energi gw dengan pergi sendiri setelah (capek) ketemu banyak orang, untuk haha hihi atau basa basi, ya walaupun hanya pergi tidur doang. Gw senang membuat pertemanan, tapi hanya beberapa yang menjadi teman intim, hanya nyaman dengan beberapa teman yang bisa gw curhatin dari A sampe Z, berjam-jam, bahkan cerita itu-itu lagi tanpa bosan. Setelah menikah, tentunya kebiasaan curhat dan cerita gak bisa sama lagi dong! kenapa gw bilang gak bisa, karena di agama gw, pernikahan memberikan keistimewaan bagi wanita untuk menjaga sikap dan ucapannya. Gak bisa lagi tuh sembarang galau sana sini, cerita sana sini, gimanapun dulu gw dekat dengan teman atau sahabat, apalagi sahabat cowo. Kan!

Beruntungnya pun gw memiliki teman-teman yang soleh :) yang mungkin punya persepsi yang sama tentang pernikahan dan tentang wanita yang telah memiliki suami. 

Sedikit kehilangan sih! gw kadang kangen cerita sama sahabat, kangen jalan-jalan juga sama mereka, ingin me time pergi dengan sahabat-sahabat. Time by time sepertinya ada jarak, jadinya ada gap deh anatara dunia single dan yang sudah menikah. Gw sering banget menerima statement "Gak enak lah sama suami kamu", "Sekarang kan kamu ada yang perlu diurus, takut ganggu ah!" "Ini cuma obrolah gadis-gadis, gak penting kok"

uuhh... gak seru banget dong mereka! kok gw gak melihat itu pada teman yang lain yang juga sudah menikah sementara teman-temannya masih single? haha mulai deh overthingking! 

Tapi itulah yang gw rasakan, apakah pertemanan bisa dipisahkan oleh perubahan status ya?. Apakah wanita menikah jadi gak asik, jadi gak bisa ngonongin hal-hal sampah lagi, ngomongin seputaran dunia gadis? hahaha overthingking lagi.

Lalu... gw pun menjadi IBU! dunia makin berbeda. Gw merasa gap itu semakin besar, kini dunia gadis dan Ibu. Huft! Gw dianggap tambah sibuk dengan urusan gw dengan si Anak plus Rumah Tangga.

Group sosmed makin sepi, karena si gadis-gadis memilih membuat group baru, karena takut ganggu si Ibu-ibu dengan percakapannya, atau si gadis left group karena si Ibu-ibu ngomongin hal-hal yang terlalu emak-emak.

Here the fact, gw jadi krisis pertemanan. Gak enak banget rasanya "ditinggal".

Fakta lainnya, gw menikah dengan lelaki yang 8 tahun lebih tua. gw lebih sering ikut pertemanan dia dibanding sebaliknya, jadi rata-rata circle gw adalah mereka yang lebih berpengalaman dalam pernikahan, parenting dan kehidupan. haha kadang roaming sih, seriously mereka kalau udah ngobrlin politik, agama, dll itu deep, tipe anak ITB tua dan yaaa se-level usia mereka lah. Tapi setelah diikuti malah bisa jadi leih pinter.
 
People said that life is about choice. Ya bener! kini prioritas gw adalah keluarga dan anak. Di kantor, saat istirahat makan siang, gw memilih pulang ke rumah, nengok anak dan pulang se-tenggo mungkin, demi gak kehilangan banyak momen sama Anak dan demi kebutuhan suami, cepat gw penuhi. 
dan puuunnn, gw agak berat jika ada ajakan main atau nongkrong selepas pulag kerja, karena...anak dong! Jadi Intinya, gw tuh Ibu-ibu yang masih pengen main, hangout, hepi-hepi, tapi giliran udah main, langsung baper karena ninggalin dan kangen anak, Nah gimana dong?!

Pernah ada yang bilang, mungkin nanti semua akan sama, saat semua jadi istri-istri dan emak-emak, kita akan sama lagi.

Wont, we?

Hai Istri dan Ibu, apakah begitu?

Annisa






Kamis, 23 April 2015

Pregnant doesn't stop me to do Yoga

Belakangan ini saya sering post beberapa foto yoga, pillates atau acro yoga di social media. Dimana Yoga dan pilates ini sudah saya ikuti setahun lebih besama Lisa’s movement family dan saat ini saya sedang hamil usia 19 minggu.

Saat post foto dengan pose yang agak ekstrim, muncul beberapa komentar yang intinya khawatir dengan kondisi kehamilan saya tapi tetap melakukan gaya-gaya acro yoga, kayang, headstand, yang sebenarnya sudah sering saya lakukan dari sebelum hamil dan terakhir saya post foto inversion menggunakan tali #redcore

Komentar tersebut membuat saya ingin mengulas sedikit tentang aktivitas yoga kami (termasuk ibu-ibu hamil) di lisa movement. Pada dasarnya exercise wont harm your pregnancy, asal dilakukan dengan benar dan dibawah pengawasan instruktur professional, sama saja dengan senam hamil, kalau datang ke Rumah sakit untuk mengikuti senam hamil, pasti di guide sama instruktur yang gak sembarangan, kan? nah beda nya olahraga yang saya lakukan agak-agak antimainstream (cheers :D...). 

Bicara soal instruktur, kami menyebutnya Bu Guru, dia adalah Lisa namuri, sangat profesionnal dan bersertifikasi. Ibu dua anak ini, merupakan istruktur yoga/pilattes beberapa klien ternama. Beliau sempat tinggal di Australia untuk mendalami Yoga/Pilates. Beliau juga seorang model dan pakar raw food. Jadi sudah pasti saya sangat merasa aman dan percaya melakukan latihan-latihan di tiap minggunya. Beliau juga pernah meluncurkan buku Pilates untuk kehamilan dan buku yang baru saja launching yaitu Lisa's Movement. Oia silakan cek www.lisanamuri.com

Mbak.Lisa, sangat memperhatikan tiap gerakan dan otot yang dituju


Pose-pose yang saya post juga tidak sekali jadi atau asal dapat foto :p, tapi di awal sesi pasti latihan basik dulu, baik yoga atau pilates, menguatkan otot-otot yang dituju. Dulu saat mau prewedding dengan gaya-gaya yoga, saya dan pasangan memaksakan mau pose double kayang dan double plank , tapi ya karena gak pemanasan, jadinya ambruk deh :). Karena latihan yang saya ikuti bukan khusus ibu hamil, jadi jika ada gerakan yang dirasa tidak kuat atau menekan ke perut, ya saya stop. 

Contoh nya, gerakan basik sun salutation, bagian yang mengharuskan badan menempel pada mat, saya skip langsung ke full cobra, plank beberapa detik, Mbak Lisa selalu bilang untuk Bumil yang gak kuat cukup down all four saja atau gerakan sit up dengan tangan dan kaki diangkat bersamaan, yang megharuskan otot perut “bangun” saya gak bisa doong, jadi saya bobo-bobo cantik aja :p

Gerakan lainnya... hemm kalau kata suami saya saya jagonya dalam perkayangan. Memang pose ini adalah pose favorit saya, tapi bersama Mbak Lisa kayang menjadi tidak biasa. Contonya seperti dibawah.

                      


Gerakan ini cukup mudah untuk Saya dan Mbak Firly, teman saya, karena dulu pun sebelum hamil kami cukup fleksible untuk gerakan ini. Mbak firly yang jago crane, saat hamil juga masih jago, padahal crane mengharuskan otot perut masuk kedalam. Ada lagi pengalaman Mbak Kiki yang jago headstand, saat hamil 7 bulan dia masih bisa headstand, lalu saya? Udah setahun sih gak bisa-bisa tuh headstand gaya-gaya Sophia Latjuba, hiks...jadi saat hamil ini saya juga gak bisa, eh belum bisa :(
Mba Firly dan suami (base) usia kehamilan 5 bulan, 
Mba Firly, sedang hamil masih bisa hand stand
           
Mbak Kiki, hamil 6 bulan, masih bisa headstand
              
Kemarin saya post foto latihan dengan #redcord, cukup ekstrim memang, dimana saya inversion menggantung di tali, saya menjadi base dan suami saya duduk diatas kaki saya. Sejujurnya ini pengalaman pertama saya latihan dengan #redcord, dulu waktu belum hamil gak sempat ikut latihan ini. Saya agak-agak takut karena belum tau teknik nya, ditambah kayanya badan udah mulai berat untuk bisa gelantungan cantik seperti Mbak Lisa. Tapi balik lagi setelah pemanasan, diajarin teknik nya dan mbak lisa juga OK, ya saya lakukan saja dengan posisi senyaman mungkin. 

Latihan dengan redcord 

Ada yang bilang, inversion gak boleh untuk ibu hamil karena takut mengganggu sirkulasi darah di kandungan atau bisa muntah2. Saya sih gak tau teori nya gimana, tapi kalau dilakukan 1 jam full gelantungan atau headstand sih mungkin yaaa... :p

Saat itu saya memilih untuk menjadi base, sementara suami saya yang duduk diatas kaki saya, karena saya tahu jadi base hanya tinggal menguatkan kaki untuk menopang pasangan, sama sekali tidak menekan kandungan. Sementara yang duduk diatas harus mengangkat badan (pull up the body, bertumpu pada tali) untuk bisa duduk di kaki saya yang cukup tinggi. Nah itu saya gak bisa dong....

Gambar di bawah, nah ini mbak lisa juga tidak menyarakan untuk ibu hamil, karena saat hamil joint kita jadi fleksible, takutnya malah gak bisa balik lagi. Yaudah lagi-lagi saya bobo cantik aja :).

Ini latihan yang tidak disarankan Mbak Lisa

Intinya latihan yoga seperti yang biasa saya lakukan saat belum hamil, tidak bahaya, asal dilakukan dengan benar. Listen to your body and record your experience. Lalu yang gak biasa gimana dong, kamu sih bisa, lalu saya? Saya juga tidak menyarankan langsung pose-pose heboh ini kok, ada tahapan-tahapan nya dan memang sesuai kapasitas saja. Bisa stretching2 dari youtube atau jalan-jalan pagi. 

Alhamdulillah kondisi saya selama hamil cukup sehat dan kuat untuk melakukan yoga/acro yoga seperti biasanya walaupun jadi ada gerakan-gerakan terbatas karena perut melendung. :)

Saya menjadi sangat bersyukur, mungkin banyak juga bunda-bunda hamil yang jadi bedrest, mual muntah sepanjang hari atau tidak bisa selincah itu. EH...tapi jangan salah, diawal keamilan saya sempat tipes satu bulan dan kaget saya begitu tidak berdaya.


Dulu saya juga suka lari dan ikut-ikut marathon, tapi selama hamil ini skip dulu deh... mau jago gimanapun saya gak berani lari-lari atau jogging-joging cantik lagi di CFD. Beda lagi dengan teman saya, kehamilan 5 bulan masih asik jogging2.

Intinya kenali tubuh, more exercise. Bagi saya yang alhamdulillah sekali... Pregnant should not stop me to do yoga or exercise.

Salam,
Annisa



Senin, 03 November 2014

Once you decided to get married

Hi....
Now I am not really focus to work, hahaha. Busy with this new product, new formulation and this product launching stuff. Bulak balik Jakarata-Bandung, trial di Pabrik Bandung dan dengan semua persiapan pernikahan.

Now everythings is on my head. Berbicara tanpa bergantian

I wanna share, but wait dari mana ya... this too amazed me, Allah really bless me

Singkat kata.. I am gonna married like soon! Alhamdulillah.

Jadi lucu kalau inget-inget jaman dulu. It always to be a funny story di balik mewek-mewek gara-gara patah hati dan gagal move on. Episode gagal move on yang gak beres-beres, eh pas udah move on sampai bisa lari 12 keliling sabuga dalam 12 menit saja sambil senyum-senyum, padahal pas TPB aja mata kuliah olahraga dapet nilai C, tapi berujung patah hati juga, di Negeri orang galau-galau di kedutaan. Episode Amirah yang gak beres-beres! Drama Agus dan Lani (peran di film Jomblo) yang ternyata -oh ada ya di dunia nyata ini dan terjadi sama gw- yang sampai akhirnya tersadar kalau gw sedang menyakiti diri sendiri dalam dan lebih dalam lagi kalau terus bertahan.
 
Sampai akhirnya kosong, sepi, sedih dan bertanya, apa mau si wanita ini?.
 
Untung nya gw saat itu masih sadar kalau ada sang Maha Pengasih yang akan membimbing gw. Sedikit capek juga dengan drama-drama gak penting ini, dengan hopeless romantic stuff ini, dengan segala potensi diri yang sepertinya dimatikan dengan gagalnya move on. Gw tahu apa yang harusnya dilakukan, apa yang boleh dan tidak boleh, sehingga saat itu bulat tekad gw untuk. Menikah. Bukan, bukan pelarian, bukan karena capek, tapi apalagi yang harus kamu khawatirkan jika semua nya sudah Ia beritahu jalannya. Mudah bukan?
 
Saat itu bertepatan dengan menjelang akhir tahun. Gw merasa harus ada suatu perubahan besar, suatu maneuver dan breakthrough yang akan membawa gw pada perubahan besar di tahun mendatang. Ya! gw harus melakukan sesuatu terobosan, entah apalah itu.
 
Hingga datanglah seorang M. Satya Oktamalandi, seseorang yang dikenal dulu, dimudahkan datangnya, untuk menawarkan diri menjadi Imam si wanita bingung namun penuh keyakinan ini. Balik lagi lah ya gw menjadi wanita pemikir, penakut, gagal move on, takut mencoba, terjebak masa lalu, you name it. Sempet mau mundur?? jangan ditanya! sempet gak mau? apalagi! keluarga aneh dan tidak mendukung? more likely!
 
Semua bergejolak saat si lelaki itu datang. oh please, memutuskan menikah, tanpa tahu siapa dia, semua berjalan begitu cepat, orang tua konvensional, itu tidak mudah. Tapi entah kenapa semua nya begitu mudah, terus melaju pada niat besar diawal dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Cukup ikuti. percaya. Dan lalukan yang terbaik. Jika ini adalah untuk mu, maka ini adalah untuk mu.
 
Maju dan terus melaju, apapun yang dirasakan kami berdua, kami terus maju dengan mudahnya...sampai akhirnya 2 bulan lagi aku akan menikah! dan sekarang beberapa list nomor telfon tempat resepsi sedang aku hubungi satu-persatu ditengah jadwal trial yang mencekik ini.
 
Oh God. seems everybody getting married on that month, there no venue are available. Hiks..

#latepost
 

Minggu, 27 April 2014

Thousand Steps Closer

Kenapa nangis ya? sesengukan, waktu ditanya mau jadi bagian terpenting dalam hidup nya. Dengan menatap dalam matanya, aku hanya diam lalu semua memori seketika bermunculan satu-satu dengan random nya, semua mimpi dan cita-cita sepetinya di depan mata, ada rasa takut, ragu dan tidak percaya. Tidak menjawab... hanya menangis.

Muncul pula rasa sakit di hati yang sepertinya masih tinggal, lalu bibir mulai bergetar disusul air mata yang mengalir ke pipi. Saat itu bukan menagis karena rasa sakit di hati, tapi rasa syukur yang tidak bisa di bendung, karena seseorang di depan ku malam itu, didatangakan oleh Tuhan dan membuat aku begitu berharga, setidaknya mengingatkan aku bahwa aku begitu berharga dan tidak perlu diingkari bahwa Allah Maha Baik. Sakit di hati rasanya tersapu oleh rasa syukurku.

Ragu, takut dan tidak percaya, aku atasi secepat jentikan jari dengan mengingat bahwa saat ini aku hanya percaya bahwa Allah sudah merencanakan semua nya untuk aku maupun dia. Kekhawatiran di masa depan dan ketakutan akan selalu ada, tapi aku hanya percaya dan aku pegang kuat-kuat, jika memang dia jodohku, dan aku jodoh nya, semua akan baik-baik saja.

Bagi aku, bertemu dengan nya, bukan lagi satu langkah menuju apa yang aku cita-citakan yaitu mengharap Ridha Allah SWT, dalam jalan Rosul, tapi insyaallah ribuan langkah. Semoga langkah aku dan kamu tetap lurus pada satu-satu nya tujuan yaitu Allah.

Tetap berdoa ya, Kak :)


Kamis, 06 Februari 2014

We Can't See People Just by the Cover

Sering banget denger kata-kata "Dont judge people by its cover". Jangan menilai orang hanya dari kelihatannya. Klasik! belum tentu yang penampilannya buruk, hati nya buruk dan belum tentu yang penampilannya baik, sopan, keliatan pintar, memang kelihatannya demikian.

Bagi Gw bukan hanya, jangan menilai orang dari luar nya saja, but We really cant see people just by the cover. Entah lah, itu adalah dua hal yang berbeda atau bagaimana, yang intinya menurut Gw, mata akan selalu terbutakan.

Sampai Gw benar-benar jauh lebih dalam, sering nya gw menemukan bahwa penilaian gw terhadap cover itu adalah salah.. termasuk saat gw menilai cover yang Indah.

So, we cant see people just by the cover, it wont works.

Kamis, 13 Desember 2012

Aura dan Buddy

Di suatu siang, dengan sangat random nya gw bertemu dengan teman lama, tanpa sengaja. Bener-bener kocak, ketemu papasan, padahal semalem kami asik BBM-an. Saking kagetnya gw sampe gak percaya, pasang muka cengo dan muka “ihh lo siapaaa??” hahaha (Sory Kak). Dia adalah buddy gw, Kak Riza, pasangan fasilitator Siaware 20. Setelah acara tersebut, kami masih berhubungan baik, saling berkomunikasi, saling memotivasi dengan gaya Siaware :D, sampe cerita-cerita gak penting termasuk cerita kegalauan masing-masing, tapi senengnya semua kami tanggapi dengan gaya Siaware. heheh. Singkat kata, sebagai pasangan fasil, kami masih saling berkomunikasi, makanya super kaget ketemu dia di jalan tanpa sengaja.

Kita jarang ketemu sih, tapi cukup sering BBM-an dan saling update. Dengan begitu, saat kita ngobrol atau ketemu, gak ada kecanggungan. hehe. Seolah-olah ketemu tiap hari.

Cukup kaget dengan isi BBM dia ke gw, setelah ketemu gak sengaja kemarin. Dia Bilang, “Kok Bisa gitu ya ketemu di Pafest tadi, tapi kok lo rasanya gak “secerah” dulu ya. JEGEERR! gw mengira kulit gw menghitam, haha ternyata bukan. “Iya aura “oke” nya yang lo pancarin waktu pas calon fasil Siaware 20 udah gak ada, kayanya tertelan problem si Itu ya”.

“Kayanya lately hidup lo kurang menarik ya, rencakanan sesuatu gih!”

Aaakkk. seperti kena petir. Tapi masih beruntung sih punya Buddy yang perhatian, bisa ngasih masukan buat kebaikan. Kadang saat udah jenuh banget, gw sendiri gak sadar “kondisi” diri sendiri. Thats what Buddies are for :D

hahah masalah aura-aura ini memang harus dibenerin nih. Terimakasih ya Budd. Taun depan akan banyak melakukan kegiatan yang lebih seru, backpacking, berbagi, liburan dan kayanya load kerjaan juga meningkat. Tunggu di calon fasil siaware 21, aura aku akan kembali. AMIIIINNNN :D

Happy Friday :)

Rabu, 31 Oktober 2012

Sore #2: Sepi Itu Indah

Pernah mendengar quotes tentang sendiri, seperti Sepi ditengah keramaian, atau I am not lonely when I am alone , Sepi sendiri, atau Forever alone (haha itu mah derita lo! :p).
But well, ada satu quotes bagus dari Mbak Inggrid Wijanarko di acara Just Alvine...
Sepi itu indah

Gw juga merasakan kalau sepi itu indah, saat-saat memang ingin sendiri, me time, saat dimana memang ingin sendiri, bukan karena sepi, tapi menikmati kesendirian. Penah kan, di kamar lagi pengen nulis, beres-beres rumah, baca buku, belanja atau ngapain gitu yang gak mau di ganggu siapa pun, di telfon siapa pun..ya benar-benar sama diri sendiri.

Time to talk with myself, for fixing, for accepting and discuss with just me, and God also.

Seperti sore ini, dimana hanya ada gw, hujan dan ruangan kantor yang sudah sepi dan.. fasilitas internet kantor. :p